Tampilkan postingan dengan label baby. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baby. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 November 2008

Susu UHT vs Susu Formula








Imel ini aku dapat berdasarkan pertanyaan yg kukirim ke redaksi susu ultra. Bagus buat menambah wawasan para orang tua. so selamat membaca ya.... mudah2an bermanfaat.

---- Original Message -----
From: "hany kurniasari" <hanny_sari@yahoo. com>
To: "ultra" <seputarsusu@ ultrajaya. co.id>
Sent: Friday, January 19, 2007 4:04 PM
Subject: Antara susu UHT dgn susu Formula

dear redaksi,
terima kasih sudah menjawab surat saya yg pertama dhl tentang susu dan Obat.
Skrg sy ingin menanyakan manfaat antara susu UHT dgn susu formula. Spt yg
diketahui susu Formula bayi sampai usia 5 thn sgt byk beredar baik merek
maupun kandungan gizinya. Yg ingin sy tanyakan:

1. Mana lebih baik kandungan gizi susu UHT dgn susu Formula?
2. sy perhatikan di luar negri sana tdk banyak ibu yg menggunakan susu
formula sbg pengganti ASI, melainkan menggunakan susu UHT. Bgmn cara
pemberian susu UHT kepada bayi diatas 1 thn utk beralih dari ASI?
3. Setelah ASI eksklusif 6 bln, susu apa yg baik diberikan kpd bayi sbg
tambahan?
Terima Kasih atas jwbnnya.

Jawaban Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS:

Terima kasih atas pertanyaan Ibu Hany,

Secara alami susu segar telah mengandung semua zat gizi dalam jumlah dan
komposisi yang baik untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Sesuai dengan namanya,
susu formula adalah susu yang diformulasi dengan bahan-bahan lain, agar
memiliki komposisi seperti yang diinginkan. Itulah sebabnya, mengapa saat
ini di pasaran ditemui begitu banyak macam susu formula, masing-masing
dengan klaim dan iming-iming tertentu.

Bayi hingga usia 4-6 bulan sebaiknya memang mendapatkan ASI eksklusif Di
atas usia tersebut sudah saatnya untuk mendapatkan makanan pendamping ASI
(MP-ASI). Untuk sementara MP-ASI yang dipilihkan dapat berupa susu formula
khusus untuk bayi di atas 6 bulan. Bila nanti sudah berusia 9 bulan, bayi
ibu sudah bisa dilatih dengan susu UHT, tetapi harus diencerkan terlebih
dahulu dengan air. Apabila sudah berusia 12 bulan, susu UHT dapat diberikan
seutuhnya anak. Jumlah yang diberikan berkisar antara 2 - 3 gelas sehari (1
gelas = 250 ml)., sesuai kemampuan anak.

Susu UHT direkomendasikan untuk diberikan kepada anak usia di atas 12 bulan.
Dengan demikian putra Ibu sudah memenuhi kriteria tersebut. Budaya minum
susu UHT harus dipertahankan hingga usia balita, remaja, dewasa bahkan
lanjut usia. Karena melalui minum susu secara rutin, fisik anak akan tumbuh
secara optimum dan kuat, serta kesehatannya akan selalu terjaga prima
sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit.

Sejak dini harus diusahakan agar anak memiliki status gizi yang baik, yaitu
tidak kurang dan juga tidak lebih. Oleh karena itu, anak-anak harus
diusahakan memiliki status gizi yang baik melalui pola makan yang benar,
yaitu dengan menerapkan konsep menu seimbang. Menu seimbang artinya makanan
yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral, sesuai
dengan kebutuhan anak. Cara paling sederhana untuk memonitor status gizi
anak adalah dengan cara mengukur tinggi badan atau berat badan, serta
mencocokkannya dengan Tabel tinggi badan menurut umur atau Tabel berat badan
menurut umur. Tabel tersebut bisa dilihat di buku-buku tentang gizi atau
panduan rumah sakit.

Susu UHT (Ultra High Temperature) merupakan susu yang diolah dengan suhu
pemanasan sangat tinggi (135-145ÂșC) dalam waktu yang sangat singkat (2-5
detik). Pemanasan dengan suhu yang sangat tinggi bertujuan untuk membunuh
seluruh mikroorganisme, baik pembusuk maupun patogen (penyebab penyakit).
Waktu pemanasan yang sangat singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan
nilai gizi susu, serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif
tidak berubah dibandingkan susu segarnya. Di dalam teknologi pangan, telah
diketahui bahwa pengolahan dengan suhu pemanasan yang tinggi tetapi dengan
waktu yang sangat singkat, lebih dapat menyelamatkan nilai gizi daripada
suhu pengolahan yang lebih rendah tetapi dengan waktu yang lebih
lama.Pengolahan susu cair segar menjadi susu UHT relatif lebih sedikit
pengaruhnya terhadap kerusakan zat-zat gizi, dibandingkan dengan pengolahan
susu bubuk.

Susu bubuk berasal susu segar yang kemudian dikeringkan, umumnya
menggunakan spray dryer atau roller dryer. Kerusakan protein sebesar 30%
dapat terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk. Kerusakan
vitamin dan mineral juga lebih banyak terjadi pada pengolahan susu bubuk.

Susu UHT dapat dijadikan sebagai pengganti susu bubuk. Dalam beberapa hal,
susu UHT lebih praktis diberikan kepada anak-anak, yaitu mudah dibawa, tidak
perlu waktu untuk menyiapkannya, serta awet disimpan pada suhu kamar selama
10 bulan meskipun tanpa bahan pengawet. Konsumsi susu penting untuk
meningkatkan sistem imunitas (kekebalan) tubuh terhadap berbagai penyakit.

Sesungguhnya susu cair dapat diandalkan sebagai bahan pangan sumber zat gizi
yang sangat baik. Itulah alasan utamanya mengapa konsumsi susu cair di
dunia selalu lebih tinggi dibandingkan susu bubuk. Hanya di Indonesia,
berlaku hal sebaliknya. Hal tersebut merupakan warisan masa lalu, khususnya
di zaman penjajahan yang lebih mudah untuk mendistribusikan susu bubuk
ketimbang susu cair. Kendala lain di masa lalu adalah keterbatasan
teknologi pengolahan susu dan keterbatasan lemari pendingin.

Selain itu keunggulan susu UHT dibandingkan yang lain adalah: (1) aman untuk
dikonsumsi, karena telah bebas dari mikroba pembusuk dan mikroba penyebab
penyakit, (2) memiliki warna, rasa dan penampakan yang mirip susu sapi
segar, (3) susu bersifat awet dan tanpa bahan pengawet, (4) sangat praktis
untuk dikonsumsi dan tidak membutuhkan lemari pendingin, (5) mengandung zat
gizi yang sangat bermanfaat bagi pemeliharaan kesehatan tubuh yang optimal.

Semoga ibu & keluarga tetap mengkonsumsi susu UHT untuk memperoleh manfaat
yang optimal...

Salam Hangat,

seputar susu

Senin, 08 September 2008

Inisiasi Menyusu Dini, PERSPEKTIF EEP SAEFULLOH FATAH

seorang pengamat politik di Indonesia yang mendapat pencerahan IMD


Inisiasi Menyusu Dini

Dari titik manakah seorang pelaku politik Indonesia terbaik dibentuk? Bagi saya, jawabannya terentang dari ruang kerja Dokter Utami Roesli hingga ke ruang persalinan Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Jakarta Selatan. Lebih dari sekadar seorang dokter anak, Utami adalah seorang pejuang tak kenal lelah.

Ia memperjuangkan agar setiap anak beroleh hak asasinya: air susu ibu (ASI). Ia terus mempromosikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup seorang bayi, lalu dilanjutkan dengan penyediaan ASI hingga sang bayi setidaknya berusia dua tahun. Untuk itu, tentu saja ia mesti bertarung melawan produsen susu formula yang memiliki jaring laba-laba bisnis besar.

Seperti David, ia berperang melawan sang Goliath, para produsen yang dimanjakan pasar gemuk Indonesia. Dengan tawaran bisnis menggiurkan yang diajukan para produsen raksasa itu, sesungguhnya mudah dimengerti jika Dokter Utami mudah menyerah kalah. Tetapi nyatanya tidak. Sejak 1992 hingga hari ini, ia tetap berdiri di tempatnya. Ia bergeming, bersikukuh dengan perjuangannya.

Pada 19 Juni dan 31 Juli lalu, saya dan istri berkonsultasi pada Dokter Utami tentang bayi kami yang masih dalam kandungan. Untuk pertama kali kami mendengar penjelasan tentang temuan-temuan riset baru mengenai inisiasi menyusu dini (IMD) --yang menjadi tema perjuangan lain Dokter Utami sejak 30 Maret 2006.

Maka, di ruang persalinan RSPI, pada dini hari 12 Agustus 2008, selama hampir satu jam, putri kami yang baru saja lahir, Kaskaya Alessa, menjalani IMD.

Setelah dilap alakadarnya, dengan ditutup selimut pada bagian punggungnya, sang bayi ditengkurapkan di atas perut dan dada sang ibu. Setelah beberapa menit, sang bayi mulai mencium-cium telapak dan punggung tangannya sendiri. Kemudian keluarlah air liurnya.

Rupanya, bau di telapak dan punggung tangan itu mengingatkannya pada bau serupa di dalam rahim. Tak lama kemudian, sang bayi mulai merangkak naik. Perlahan tapi pasti, ia mencari dan menemukan sendiri puting susu ibunya yang baunya identik dengan bau pada punggung atau telapak tangannya itu.

Menjelang menit ke-40, putri kami menemukan puting yang dicarinya. Pada menit ke-48, ia mulai menyusu sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Dengan takjub saya menyaksikan sebuah kerja sama yang dirancang Tuhan secara dahsyat.

Berdasarkan berbagai riset, suhu perut dan dada ibu berfungsi mengelola --menurunkan atau menaikkan-- suhu tubuh bayinya yang baru lahir. Pertemuan kulit keduanya juga membentuk sistem pertahanan tubuh bayi. Gerakan bayi, terutama injakan-injakan rangkakan kakinya, membantu mengurangi perdarahan ibu serta membantu memperlancar keluarnya plasenta. Di atas segalanya, IMD memberi peluang bagi ibu, bayi, dan ayahnya untuk membangun komunikasi intens untuk saling menguatkan hubungan ketiganya.

Tak hanya itu. IMD juga memberi fondasi kuat bagi sang bayi untuk tumbuh sehat, mengurangi angka kematian bayi, memfasilitasi peningkatan kecerdasan, dan memberi fondasi kuat bagi tumbuh kembang bayi sebagai manusia unggul.

Pada titik itulah saya menemukan keterkaitan ASI, IMD, serta masa depan politik dan demokrasi kita. Dokter Utami, bagi saya, adalah seorang penggiat sosial-kemanusiaan yang berhasil keluar dari jebakan salah kaprah umum. Di tengah begitu banyak orang yang senang jalan pintas, selalu berpikir instan dan melihat segala sesuatu secara artifisial, ia bersikukuh melihat persoalan dari akarnya.

Ia mengajari kita tentang betapa percumanya membangun sesuatu manakala kita tak menopangnya dengan fondasi kuat. Betapa tak banyak gunanya mengatasi segenap hal di hilir manakala soal-soal di hulu tak kita pecahkan dulu.

Bagi Dokter Utami, Indonesia yang lebih baik hanya bisa digapai manakala kita menyiapkan sumber daya manusia terbaik dari titik yang paling dini. Dalam perspektif ini, politik dan demokrasi kita juga hanya akan mungkin terbangun dan terkuatkan secara layak manakala tersedia para pelaku terbaik demokrasi. Persiapan itu, dalam perspektif Dokter Utami, mesti dilakukan sejak seseorang menjalani detik-detik pertama sebagai umat manusia.

Maka, ASI dan IMD berpotensi ikut menjadi fondasi bagi demokrasi dengan menyiapkan manusia Indonesia unggulan. Mekanisme yang terlihat sederhana itu berperan menyelamatkan generasi terbaik untuk memajukan Indonesia di berbagai bidang.

Maka, saya sungguh girang mendengar bahwa cucu pertama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dilahirkan melalui operasi caesar pada pukul 06.21 WIB, 17 Agustus 2008, pun menjalani IMD, difasilitasi Dokter Utami. Proses IMD putri Kapten (Inf) Agus Harimutri Yudhoyono dan Annisa Larasati Pohan itu secara simbolik menegaskan pemihakan keluarga besar presiden terhadap perjuangan pemberian hak-hak asasi anak dan penyiapan generasi unggul Indonesia.

Bapak Presiden dan keluarga, selamat!

Eep Saefulloh Fatah
Pengajar ilmu politik di Universitas Indonesia
[Perspektif, Gatra Nomor 40 Beredar Kamis, 14 Agustus 2008]